Halaman

Kamis, 14 Agustus 2014

W-I-S-U-D-A !!!!

Kegiatan sore ini masih ga jauh beda sama sore-sore selama liburan di semester ini. Kepo. Ya, kepo kegiatan yang selalu menimbulkan rasa sesak setelahnya. Anyway, I do love it. Muehehe, karena menurut gue kepo is care, eh ganti ah itu udah terlalu mainstream. Jadi kepo itu menguji adrenalin. Gimana keren kan? Gaperlu mahal-mahal beli tiket ke dufan teros naik tornado atau sejenisnya lah...
Ceritanya sore ini mau berkegiatan di pesbuk. Sosmed setriliyun umat. Baru buka beranda dan *PAW! Btw kaget ga? Engga ya? Baiklah. Apa dong itu. Ada yang upload foto pake toga gitu. Captionnya itu kalo ga salah "persiapan wisuda - nyobain toga yeeey" haaaaaaa tibatiba terharu dan bombay. Jangan heran plis. Terharu? Iya yang update itu my choice nya gue dulu. Dulu. Ditanggal 14 Agustus 2010. Eh berarti 4 tahun silam ya? Iyaaaa.
Mau flashback dikit boleh? Ya maklum kodrat jadi cewe yang katanya ahli sejarah ini lg kambuh. Tapi bingung harus cerita dari mana. Rasarasanya gue banyak dosa sama dia. Iya, dia yang ga pernah gue ceritain sebelumnya. Mungkin karna dia ga pernah buat galau dan super baik. Jadi luput dari sorotan masa gitu. Hoam. Maaf. Jujur deh selama ini ngerasa bersalah banget sama makhluk ajaib yang satu ini. Selalu buat kecewa dan cemburu. Maaf. Maaf banget hey! Kalo dibilang sayang, ya sayang. Secara kita deket itu 2taun lebih, lebihnya banyak malah. Selalu jadi malaikat penolong dan pengabul permintaan-permintaan manja gue (dulu). Sekarang? Rasanya kangen pengen ketemu, bukan modus ini tulus. Serius. Kangen aja. Iya cuma sekedar kangen. Kangen semuanyaaana. Inget ga sih kita dulu ngapain aja? Haha ssstt. Rahasia.

Back to the topic. Wisuda. Yakin itu udah mau wisuda? Ahhhhh selama ini gue kemana aja? Padahal dulu kita pernah mimpi ya, iya mimpi untuk tetep sama-sama saling nguatin dimasa-masa sulit. Nah, pas masamasa sulit lo mencapai wisuda gue kemana? Ah udah cukup. Jangan tanya. Gue hilang ditalan bumi. Entahlah. Nyesel? Mungkin. Ko bisa? Ah gatauuu. Terlalu rumit. Om google yang tau apa aja juga mungkin enggan nyariin jawabannya. Oke.
Oke cukup. Selamat menempuh hidup baru. Selamat, selamat, selamaaaaat. Sincerely miss you :')

Selasa, 29 Juli 2014

Let time heal the wound

Happy Eid Mubarak!
Malem takbiran: bombay dan bilang "fix benci" 》 Lebaran pertama: maaf-maafan, ngemil sambil guling-guling dan nonton film india (ritual rutin setiap lebaran) 》 Lebaran kedua: Mampi kerumah aku, lari-larian sampe sempur, ke botani trus jalanjalan dan baca buku ke gramed, pulang kerumah kalian (yes, mereka yang selalu menjadi tokoh dalam setiap postingan) halal bihalal sama mama n papa terus pergi lagi, angin-anginan makan nasi goreng seafood, minum es bansus dan makan duren dipinggir jalan terus cari pempek ke kafe sebrang dan ternyata tutup. Pulang kerumah sambil oleng-oleng (mungkin mabok duren), tidur-tidurang godain jani sama braga. Buat mimpi-mimpi baru, bercanda kaya dulu (yap, dulu. Sebelum perang dunia ke tiga pecah).

Finally, sekarang kita bertiga akur lagi. Aneh, entah kenapa bisa secepat itu mengembalikan rasa yang dulu udah coba di buang jauh-jauh. Tapi itu semua bukan masalah, yang penting kita bisa kumpul bertiga. Entah rasa apa yang terpendam dalam hati kita masing-masing. Sulit untuk menganalogikannya. Cukup untuk dinikmati. ♥

Jumat, 18 Juli 2014

Rasa Baru!

Hai. Aku kembali, yap kembali dengan perasaan yang sama perti dulu. Eh enggaaaaaaa! Kembali dengan perasaan baru. Perasaan yang lebih menyesakan. Sesak? Iya! Entah ini perasaan apa. Sakit. Perasaan baru yang justeru lebih rumit. Dulu sekedar nyaman, rasarasanya rasa itu tlah berkembang menjadi rasa sayang dan rasa takut akan kehilangan. Lagi-lagi hati ini tertekan akan pilihan rasa yang seharusnya ditimbulkan. Salah.
Ya! Ini salah, ternyata 'mereka' benar. Harusnya hati ini lebih peka. Mungkin kini hati sudah menyadari apa rasa yang sesungguhnya yang dikehendakinya. Namun lagi-lagi nasib seorang gadis itu hanya menunggu dengan menerkanerka apa arti dari kejadian itu tanpa sedikitpun keberanian untuk menanyakannya.  :'(

Sabtu, 15 Februari 2014

Diantara Waktu Luang *Ujarnya


          Entah dari mana mulainya bisa ketemu orang-orang keren (menurutsaya) kaya mereka. Salah satunya seseorang yang mengakui dirinya sebagai “Senior Alay”  dengan argumennya “Anak alay kalo ketemu gue mereka pada salim—senior”  dan kamipun meng-ia-kan-nya *kemudiansalim* *Loh? Okecukup. Kalo dibahas dari awal bisa bulan depan selesainya.

Kebiasaan kepo ternyata ga selalu berdampak buruk pada hati loh, salah satunya ini. *taraaa* nemu link diantarawaktuluang.wordpress.com *kemudianmengunjungi* dan *Pow! “Silahkan masuk, duduk, dan nikmati suguhan sederhana diantar waktu luangmu” kebetulan lagi ada waktu luang saya pun duduk manis menyentuh layar handpone sambil memfokuskan mata untuk menikmati suguhan yang tersedia. Postingan pertama yang saya nikmati berjudul “Televisi dan Pembodohan” ah sangat menarik, saking menikmatinya entah saya sudah menyantap berapa porsi postingannya, beruntungannya postingan ini di suguhkan secara gratis, andaikan bertarif? Ah mungkin uang jajan saya sudah habis dibuatnya. Hehe

Sampai saat ini ada salah satu postingan yang sangat saya favoritkan, judulnya “Jangan Pikirkan Gajah!” isinya seperti ini: (semoga senior alay yang satu ini berbaik hati memberikan izin untuk me-repost postingannya. *izin? Belom, masih ngumpulin keberanian untuk bilangnya xD)

“May 14, 2012 by gulisworld

Apa yang kalian pikirkan jika ada orang yang berkata “jangan pikirkan gajah”?

Ya, otomatis pikiran kita justru akan memikirkan gajah. Begitu juga dengan saya. Saat ini banyak orang yang meminta saya untuk tidak memikirkan gajah, bahkan diri saya sendiri pun memerintahkan untuk tidak memikirkan gajah. Tapi si gajah ini memang nakal rupanya. Semakin saya tidak ingin memikirkannya, dia justru semakin jelas datang dalam pikiran saya. Bahkan alam bawah sadar saya. Lalu tanpa dosa dia masuk ke mimpi saya.

Tadi malam saya bermimpi tentang si gajah. Iya, gajah yang itu. Gajah yang tidak seharusnya saya pikirkan. Tapi saya malah memimpikannya dengan sangat jelas dan nyata. Dia datang dengan senyumnya yang khas. Sesekali dia tertawa, entah menertawakan apa. Tapi dalam mimpi itu kami berbincang tentang banyak hal. Sesuatu yang sepertinya saya kenal.

Tapi itu hanya dalam mimpi. Kenyataannya, si gajah itu tidak ada di dunia nyata saya. Mungkin pernah ada. Tapi lalu menghilang. Jangan tanya saya kemana perginya, karena saya tidak tahu. Mungkin kembali ke hutan, mungkin juga dia menemukan kandang yang nyaman. Entahlah.

Saya jadi berpikir. Jangan-jangan selama ini saya hanya bermimpi? Kata Cobb (Leonardo Dicaprio) dalam film Inception, kita tidak pernah menyadari kalau kita sedang bermimpi sampai kita berada di pertengahan cerita. Persis. Saya tidak ingat kapan saya mulai mengenal si gajah. Bagaimana atau darimana datangnya si gajah. Saya tidak ingat. Yang saya ingat, tiba-tiba kami sering bersama. Yang saya ingat hanya saya merasa senang dengan kehadirannya. Yang saya ingat betapa saya tidak ingin berpisah dengannya. Itu saja. Saya hanya bermimpi. Selama ini hanya mimpi. Lalu saya terbangun dari mimpi panjang yang menyenangkan. Tidak ada si gajah. Hanya ada saya sendirian. Ditinggalkan.

Si gajah sudah pergi. Mungkin dia marah. Mungkin juga bosan. Mungkin saya terlalu memaksanya untuk tinggal padahal mungkin dia tidak berencana tinggal di sini. Mungkin kemarin dia hanya mampir, beristirahat sambil lewat. Mungkin dia ingin meneruskan perjalanannya lagi, menuju tempat tujuan yang pasti. Tujuan yang dia rencanakan semula.

Saya sempat melihatnya. Sebenarnya saya mencarinya dan menemukannya. Saya melihatnya di sana. Di sebuah taman penuh bunga. Dia bersama seekor gajah lainnya, tertawa bersama. Ah saya tahu… Mungkin ini yang selama ini dia tunggu. Pantas dia selalu menghitung waktu. Sayangnya, dia tak pernah bicara tentang itu. Mungkin malu. Mungkin juga tak perlu. Salah saya sendiri tidak mencari tahu.

“Hei Gajah, apakah saya membuatmu tidak nyaman? Saya hanya ingin berteman, bermain bersama, tertawa, berbagi cerita.”

Sudahlah. Tidak ada gunanya mengganggu si gajah. Tak perlu sedih, tak perlu merasa kehilangan. Karna si gajah pun tidak. Cukup melihat saja, sekedar mengetahui bahwa dia baik-baik di sana. Bahagia. Itu saja. Sehingga saya tidak perlu lagi memikirkannya. Tidak perlu memikirkan gajah. Jangan pernah.”

*re-post dari http://diantarawaktuluang.wordpress.com/2012/05/14/jangan-pikirkan-gajah/


Ahhhh ini suguhan paling menyentuh, *mengapa? Rasa-rasanya saya pernah mengalami kisah seperti itu. Mari merenung! TIDAK ADA GUNANYA MENGGANGGU SI GAJAH! “Sudahlah. Tidak ada gunanya mengganggu si gajah. Tak perlu sedih, tak perlu merasa kehilangan. Karna si gajah pun tidak. Cukup melihat saja, sekedar mengetahui bahwa dia baik-baik di sana. Bahagia. Itu saja. Sehingga saya tidak perlu lagi memikirkannya. Tidak perlu memikirkan gajah. Jangan pernah.” Terimakasih kaka senior, ah love yaaa :’)

Selasa, 29 Oktober 2013

Sampai kapan?


Damm its sweet!  >,<
“Jangan kau kira aku slalu bisa bersabar melihat sikapmu yang tak pernah bisa berubah
 Aku mungkin terlihat bisa memaklumimu, Tapi hatiku tidak.
Berkali ku katakan jangan kau bohongi aku, Karna percuma pasti nanti aku kan tahu.
Sebab yang ku inginkan hanyalah ketulusan. Namun nyatanya tidak…
Aku memang bukanlah cinta sempurna. Tapi aku masih punya arti kesungguhan tuk cintaimu
Kesungguhan di hatiku, kesungguhan untuk mengasihimu..
Aku memang bukanlah cinta sempurna.
Tapi aku masih punya arti kesungguhan tuk cintaimu Untuk mengasihimu…
Aku memang bukanlah cinta sempurnaTapi cinta itu ada.”

Sialkulah kau di sini. Dan upayaku tahu diri. Tak slamanya berhasil pabila kau muncul terus begini tanpa pernah kita bersama. Pergilah ,menghilang sajalah lagi. Meski masih ingin memandangimu, lebih baik kau tiada di sini. Sungguh tak mudah bagiku menghentikan sgala khayalan gila jika kau ada. Berkali-kali kau berkata kau cinta tapi tak bisa, berkali-kali ku tlah berjanji Menyerah—Dan upayaku tahu diri. Tak slamanya berhasil. Ooo!!!! >,<

Senin, 28 Oktober 2013

Mari merenung dan berfikir kawan!


MAKNA SEBUAH TITIPAN
(WS Rendra)

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya,

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
 
Lalu apa yang terlintas mengenai puisi tersebut? Entahlah.

Minggu, 29 September 2013

Menghabiskan Jatah Gagal!


Jreeeng!!
                Sepi bukan berarti hilang, diam bukan berarti lupa, jauh bukan berarti putus hubungan. Karena diantara kami ada satu ikatan yang tak mudah dilupakan yaitu PERSAHABATAN. Dimana terdapat kenangan, suka dan duka. Kami menyediakan waktu untuk satu sama lain, memahami kepentingan  untuk menciptakan memori-memori baru dan membangun yang lama. Meluangkan waktu untuk tertawa, mendengarkan, berbagi, mengkritik, menguatkan, membesarkan hati, dan menumbuhkan persahabatan yang lebih dalam.
Jumat, 27september 2013, ditegah kegalauan yang melanda kami (tepatnnya aku). Tanpa disengaja kami meluangkan waktu untuk menciptakan memori-memori baru dan membangun yang lama hahah. Membuat kue, sesuatu yang tidak direncanakan. Let’s beggin!!!
Pertama kita siapin bahan-bahan, nihh daftarnya: Terigu tiga sudut, Telur yamayam, Kupu-kupu pengembang, Pasir putih pemanis, Vanilla essence, Food coloring, Cup kertas, Air penghangat dan bahan rahasia. Mihihi terus kita mulai buat deh, masukin telur yang udah dikupas *eh =,=, terus masukin vanilla essence terus kupu-kupu pengembang jgn lupa lalu kocok seperempat lagu. Udah gtu masukin deh semua bahan-bahan yang tersisa, kocok sampe ngembang, kurang lebih empat lagu. Bagi rata kebeberapa mangkok untuk dikasih warna, kasih pewarnanya cukup tujuh tetes aja keculi untuk warna kuning yang aga manja kita butuh sebelas tetes. Hahhh, biar lebih seru masukin adonannya ke plastik segitiga khusus kue dan selamat  berkreasi. Kalo semua adonan udah masuk cetakan tinggal dikukus deh selama dua lagu. Pas lagu kedua selesai… *jreng* kue-kue cantik nan imut itu sudah tersenyum merekah menanti uluran tangan kita untuk segera ditata dan dihidangkan :’) Nb: selama proses pembuatan kita ga pake perhitungan waktu, setiap lagu jadi patokan hitungnya. *efek ga bias lepas dari yang namanya mp3*


Dan dunia perlu tahu ini karya kue kukus pelangi pertamanya aku dan uci yang berhasil merekah, mengambang dengan cantik sempurna, tidak seperti karya-karya kita sebelumnya yang kelihatan berbentuk seperti atap bosca, jamur atau entahlah apa itu yang pasti tak nampak seperti bolu kukus pada umumnya. *silahkan bayangkan* disini kita ngebuktiin bahwa bukan cuma Thomas Alfa Edison aja yang bisa jadi populer karna usahanya yang tanpa henti demi menciptakan bola lampu. Demi buat sebuah bolu kukus yang tersenyum cantik itu ternyata ga semudah  resep yang diwariskan para ibu-ibu yang sudah lebih terdahulu membuatnya. Entah udah berapa kilo terigu dan bahan lainnya yang udah kita habiskan, disini kita amat beruntung atas kehadiran dua makhluk ajaib (dua makhluk ajaib= kaka beradik yang sering diceritakan pada postingan-postingan sebelumnya, yang selalu sukses buat aku dan uci galau akut) yang rela menjadikan perut mereka sebagai tong sampah bagi kue-kue kita yang gagal dalam segi penampilan untuk rasa….. silahkan tanya pada mereka. Hihi
Oya, dibalik kesuksesan kami hari ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan selama proses pembuatan, cek it out…. Pastikan kalian belom mandi, kenapa? Demi untuk menghemat air dan waktu, selama proses kita ga akan lepas dari yang namanya keringet dan adonan-adonan nakal yang hinggap di manapun sesuai pergerakan yang ada. Terus situasi kondisi dapur juga perlu diperhatikan, sedikit gangguan bocah cilik yang penasaran dengan apa sedang kita buat menjadi sedikit bumbu emosi yang tertuang selama proses pembuatan, ditambah ocehan wanita tersegala-galanya penguasa dapur yang selalu berteriak “gas urang!” ya pengkodean klasiklah. Belum lagi insiden pecahnya gelas. Pecahkan saja gelasnya! Biar ramai.. =__=  Hihi pokonya itu menambah semarak proses pembuatan. Terakhir jangan lupa charge hape dan siapkan playlist yang menunjang kebutuhan kita, sebaiknya hindari lagu galau, tapi gamasalah sih sesuai selera aja. Hahah, oya jangan lupa juga untuk cari tong sampah sebagai penampungan sekaligus komentator demi terwujudnya karya terbaik, tong sampah disini juga befungsi sebagai tempat pamer ketika kue kita tersenyum dengan ceria! 
Sedikit iklan, hari ini hari ketiga pasca galau setelah tau kamu bersama yang lain! Ah sudahlah !!!